1 Tahun Full-Time iPad Pro: Kelebihan & Kekurangan iPadOS 26 yang Bikin Mirip Mac!
Hasilnya tidak hitam-putih. Ada momen di mana saya merasa “akhirnya iPad jadi seperti yang selalu dijanjikan”, tapi ada pula saat-saat di mana saya hampir kembali ke MacBook hanya karena satu atau dua bug yang mengganggu alur kerja. Berikut adalah catatan jujur, mendalam, dan tanpa basa-basi setelah satu tahun penuh menggunakan iPadOS 26 secara full-time.
Transformasi Besar yang Tidak Bisa Diabaikan
iPadOS 26 bukan sekadar pembaruan tahunan biasa. Ini adalah lompatan terbesar dalam sejarah sistem operasi iPad. Fitur windowing yang selama 15 tahun hanya jadi mimpi akhirnya hadir secara matang.
Sekarang Anda bisa membuka beberapa aplikasi dalam ukuran jendela yang bebas diubah-ubah, dipindah, ditumpuk, bahkan diminimalkan seperti di macOS. Dock yang selalu terlihat (persistent dock) membuat perpindahan antar aplikasi terasa jauh lebih cepat. Menu bar di bagian atas layar juga memberi akses cepat ke perintah-perintah penting tanpa harus menyentuh layar terus-menerus.
Bagi saya yang biasa bekerja dengan banyak referensi terbuka sekaligus, fitur ini benar-benar mengubah cara saya bekerja. Dulu saya hanya bisa membuka maksimal empat aplikasi dalam Stage Manager. Sekarang? Saya dengan mudah mengelola delapan jendela sekaligus tanpa merasa sesak. File management pun naik kelas berkat aplikasi Files yang diperbarui dan aplikasi Preview baru yang mampu mengedit PDF secara langsung tanpa aplikasi pihak ketiga.
Semua ini membuat iPad Pro terasa jauh lebih dekat dengan pengalaman komputer sungguhan. Banyak orang menyebutnya “iPad akhirnya mirip Mac”. Saya setuju setidaknya 80 persen.
Kelebihan yang Paling Saya Rasakan Setelah Satu Tahun
Berikut adalah poin-poin yang benar-benar membuat saya betah menggunakan iPad Pro full-time:
- Multitasking yang akhirnya masuk akal Windowing system di iPadOS 26 jauh lebih fleksibel dibandingkan Split View atau Slide Over generasi sebelumnya. Saya bisa membuka catatan di satu sisi, browser di tengah, dan aplikasi spreadsheet di sisi lain dengan ukuran yang berbeda-beda. Pengalaman ini sangat cocok untuk pekerjaan kreatif dan riset mendalam.
- Produktivitas naik signifikan Saya berhasil menyelesaikan proyek yang biasanya butuh laptop dalam waktu yang hampir sama. Editing foto di Lightroom, menulis naskah panjang di Ulysses, hingga membuat presentasi di Keynote semuanya berjalan lancar dengan keyboard Magic Keyboard dan trackpad.
- File management mendekati level Mac Dengan Preview bawaan yang mumpuni dan integrasi Files yang lebih baik, saya jarang lagi merasa “terbatas” saat mengelola dokumen. Drag and drop antar aplikasi juga terasa lebih natural.
- Desain Liquid Glass yang segar Tampilan baru ini tidak hanya cantik, tapi juga membuat antarmuka terasa lebih modern dan ringan. Animasi lebih halus, transparansi lebih elegan, dan secara keseluruhan memberikan kesan premium yang sesuai dengan harga iPad Pro M5.
- Hardware M5 akhirnya dimanfaatkan maksimal Selama bertahun-tahun iPad Pro punya tenaga berlebih yang tidak bisa dipakai penuh. iPadOS 26 mengubah itu. Performa multitasking jadi jauh lebih stabil (kecuali beberapa kasus yang akan saya bahas nanti).
Kekurangan yang Masih Mengganggu
Namun, satu tahun bukan waktu yang cukup untuk menyempurnakan segalanya. Ada beberapa hal yang masih membuat saya menghela napas panjang:
- Window positioning yang sering reset Ini masalah paling sering saya alami. Setiap dua atau tiga hari, tiba-tiba beberapa jendela kembali ke ukuran fullscreen tanpa alasan jelas. Saya harus mengatur ulang posisi dan ukuran dari awal. Sangat mengganggu alur kerja.
- Right-click masih terasa lambat Dibandingkan dengan Mac, klik kanan di iPadOS 26 terasa ada jeda kecil. Bukan masalah besar, tapi cukup mengganggu saat bekerja cepat.
- Beberapa aplikasi masih belum optimal Safari kadang bermasalah saat mengetik di kolom alamat — huruf yang baru diketik tiba-tiba hilang karena saran otomatis. Beberapa situs web juga masih sulit di-klik dengan cursor.
- Slide Over yang dibatasi Fitur Slide Over kembali di iPadOS 26.1, tapi hanya bisa digunakan untuk satu aplikasi saja. Padahal di versi lama saya bisa membuka beberapa aplikasi sekaligus di Slide Over. Ini terasa seperti langkah mundur.
- Masih ada rasa “belum selesai” Meskipun sudah jauh lebih baik, iPadOS 26 kadang terasa seperti versi beta yang panjang. Beberapa bug kecil muncul secara acak dan membuat saya bertanya-tanya apakah Apple benar-benar sudah siap menjadikan iPad sebagai pengganti laptop penuh.
Apakah Sudah Bisa Menggantikan MacBook?
Jawabannya: tergantung kebutuhan Anda.
Jika pekerjaan Anda mayoritas melibatkan menulis, riset, editing ringan, presentasi, dan multitasking sedang, maka iPad Pro + iPadOS 26 sudah sangat mumpuni. Saya pribadi berhasil menjalani hampir seluruh pekerjaan harian tanpa MacBook selama setahun penuh.
Namun, jika Anda sering bekerja dengan software berat (Final Cut Pro versi penuh, coding kompleks, atau butuh stabilitas 100% tanpa gangguan), maka MacBook masih menjadi pilihan yang lebih aman untuk saat ini.
iPadOS 26 sudah mendekatkan iPad ke level Mac, tapi belum sepenuhnya menyamai. Perbedaannya kini hanya tinggal beberapa persen lagi dan itu sudah merupakan pencapaian luar biasa.
Kesimpulan: Lompatan Besar dengan Sedikit Catatan
Setelah 365 hari penuh menjadikan iPad Pro M5 sebagai komputer utama, saya bisa menyimpulkan dengan yakin: iPadOS 26 adalah update paling penting dalam sejarah iPad.
Kelebihannya sangat terasa dan membuat pengalaman bekerja jadi jauh lebih menyenangkan. Kekurangannya masih ada, tapi tidak cukup besar untuk membuat saya menyerah. Justru sebaliknya saya semakin excited menanti iPadOS 27 yang diharapkan bisa menyelesaikan sisa-sisa masalah ini.
Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan upgrade atau bahkan beralih total ke iPad Pro sebagai perangkat utama, iPadOS 26 adalah alasan terbaik untuk melakukannya sekarang.
Tentu saja, setiap orang punya kebutuhan berbeda. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Sudah berapa lama menggunakan iPadOS 26 dan apakah Anda juga merasakan hal yang sama?


Posting Komentar